Mengapa Thailand Diubah Jadi Tailan sedangkan China Jadi Tiongkok? Begini Penjelasannya!
- Kabar Bahasa
- 09 Maret 2026 14:56
- 128X Dibaca
- Kabar
Pembakuan nama negara dalam bahasa Indonesia
Isu pembakuan nama-nama negara dalam bahasa Indonesia pasca dirilis United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat setuju karena pembakuan diperlukan untuk menertibkan dan memudahkan dalam komunikasi, sedangkan sebagian lain kontra karena menganggap itu tidak penting dan nama yang dibakukan dianggap janggal.
Pertentangan adalah hal yang wajar dalam sebuah kebijakan. Pertentangan ini muncul salah satunya disebabkan ketidakpahaman masyarakat terhadap kebijakan tersebut sehingga perlu penjelasan lebih detail dan berterima.
Inilah yang menjadi tugas para ahli bahasa serta lembaga-lembaga terkait untuk menjelaskan secara sederhana dan mudah kepada masyarakat sehingga mereka paham dan menerima perubahan tersebut. Tentu, para ahli bahasa dan pihak terkait melibatkan keilmuan yang kuat dalam membakukan nama-nama negara.
Linguistik menjadi ilmu yang sangat berperan dalam penentuan kebijakan ini. Dalam ilmu ini, pembakuan sebuah nama memperhatikan asal usul nama tersebut. Apakah nama itu memang sudah ada dalam suatu bahasa dan telah digunakan oleh penuturnya (endonim), atau nama tersebut adalah nama yang berasal bahasa lain dan masuk ke dalam suatu bahasa.
Terkait endonim, tentu ini tidak begitu menjadi soal karena nama-nama itu muncul dan digunakan dalam bahasa penutur sehingga secara otomatis telah menyesuaikan aturan sedari kemunculannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah eksonim yang ini membutuhkan kehati-hatian karena harus menyesuaikan dengan kaidah maupun kearifan dalam suatu bahasa.
Sebagai contoh adalah negara Thailand yang merupakan sebuah eksonim dan dalam pembakuannya menjadi Tailan. Pengubahan nama dari Thailand menjadi Tailan merupakan bentuk dari penyesuaian kaidah. Bahasa Indonesia tidak mengenal fonem /th/ atau bunyi [th] sehingga nama ini harus menyesuaikan dengan fonem dalam bahasa Indonesia, yakni diubah menjadi /t/ atau bunyi [t]. Dengan demikian, menjadi wajar saat Thailand diubah menjadi Tailan.
Hal serupa ditemukan pada pembakuan nama negara Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, Chad, Chile, Djibouti, Ethiopia, Ghana, Kazakhstan, Lesotho, Lithuania yang diubah menjadi Afganistan, Banglades, Butan, Cad, Cili, Jibuti, Etiopia, Gana, Kazakstan, Lesoto, Lituania karena dalam bahasa Indonesia tidak mengenai fonem /gh/, /sh/, /bh/, /ch/, /dj/, /ou/, /kh/. Oleh karena itu, fonem-fonem tersebut diubah ke dalam fonem yang ada dalam bahasa Indonesia, yakni /g/, /s/, /b/, /c/, /j/, /u/, dan /k/.
Selain dilihat dari fonem, pembakuan juga didasarkan pada bagaimana eksonim itu diucapkan oleh masyarakat internasional. Misalnya, Liechtenstein diubah menjadi Liktenstin karena masyarakat internasional memang melafalkan Liechtenstein sebagai [liktenstin]. Hal demikian juga berlaku untuk negara Dominica, Ecuador, Kyrgyzstan, Lebanon, Luxembourg, Madagascar, Mexico, Micronesia, Monaco, Morocco, Mozambique, Nicaragua, Paraguay, Seychelles, Uruguay sehingga dalam bahasa Indonesia diubah menjadi Dominika, Ekuador, Kirgistan, Libanon, Luksemburg, Madagaskar, Meksiko, Mikronesia, Monako, Maroko, Mozambik, Nikaragua, Seisel, Uruguai.
Lalu, bagaimana dengan China yang diubah menjadi Tiongkok? Nama negara ini tidak diubah berdasarkan penyesuaian fonem maupun pelafalannya. Melainkan, pengubahan didasarkan pada kearifan dalam bahasa Indonesia terhadap nama negara ini.
Pengubahan nama China yang sebelumnya ditulis Cina menjadi Tiongkok dipengaruhi oleh faktor sosial, psikologi, dan politik dalam masyarakat. China atau Cina mengandung stigma negatif dan rasis yang berdampak pada diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa. Mereka, keturunan Tionghoa di Indonesia, mengalami dampak psikososial yang berujung pada ketidaknyamanan saat diasosiasikan dengan negara Cina.
Oleh karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keppres No. 12 Tahun 2014 meresmikan pengubahan nama dari Cina menjadi Tiongkok hingga digunakan sampai detik ini. Penggunaan nama “Tiongkok” ini dianggap lebih netral, sopan, dan sesuai dengan penyebutan diri mereka sendiri.
BACA JUGA
Berita Populer
Gender dalam Kuliner Nusantara, Jadikan Bakso Identik Gender Maskulin
- 09 Maret 2026 15:33
Sempurnakan Tulisanmu Hanya Rp25,- per Kata, Gratis Satu Editing Ulang
- 09 Maret 2026 16:06