M. Tabrani, Sosok Pencetus Nama “Bahasa Indonesia”
- Kabar Bahasa
- 19 April 2026 20:56
- 35X Dibaca
- Tokoh
Sosok wartawan muda cerdik di balik munculnya "Bahasa Indonesia" (sumber: rri.co.id)
Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, atau yang dikenang dengan nama M. Tabrani, lahir di Pamekasan, Madura pada 10 Oktober 1904 dari orang tua bernama M. Soerjowitjitro dan Siti Aminah. Tabrani merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara.
Pendidikannya dimulai pada usia sekitar 6 tahun, yakni di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau setara dengan pendidikan sekolah dasar pada 1910. Lalu pascalulus, dirinya melanjutkan studinya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara pendidikan menengah pertama di Surabaya pada 1917. Meski masih berusia remaja, jiwa nasionalisme Tabrani sudah sangat kentara. Dia memutuskan bergabung dengan Jong Java cabang Surabaya saat masih kelas I MULO. Keseriusannya sebagai anggota Jong Java dibuktikannya dengan mengikuti Kongres Jong Java I di Solo pada 1918.
Studi menengah pertama berhasil diselesaikannya di tengah-tengah keaktifan berorganisasi yang dijalaninnya. Selanjutnya, Tabrani memiliki untuk merantau ke Bandung untuk melanjutnya pendidikan menengah atasnya atau Algemeene Middelbare School (AMS). Keaktifannya sebagai anggota Jong Java serta wartawan suatu surat kabar, membuat Tabrani tinggal kelas dan bahkan hampir dikeluarkan. Namun, melalui sidang yang dilakukan terhadap dirinya, Tabrani tidak jadi dikeluarkan tetapi diharuskan mengurangi kegiatan di luar sekolah.
Hingga kemudian pada 1923, dirinya pindah ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Serang. Tetapi kemudian, dia kembali ke Bandung dan memutuskan pindah dari OSVIA Serang ke OSVIA Bandung yang menjadi pusat pimpinan Dienaar Indie (Abdi Indonesia), sekolah untuk para calon pegawai negeri. Sekolah tersebut kini disebut dengan Institut Pegawai Dalam Negeri (IPDN).
Tabrani yang tidak bisa diam memilih mengisi waktu luangnya saat belajar di OSVIA Bandung dengan menjadi seorang penulis di harian berbahasa Belanda, De Locomotief Semarang. Hingga lulus dari OSVIA, dia tidak memilih menjadi seorang pegawai negeri layaknya teman-teman lainnya. Dirinya justru memilih bekerja di media bernama Hindia Baroe Jakarta mulai Juli 1925. Di kantor medianya ini, Tabrani bahkan sampai mencapai posisi redaktur pertama atau pengganti pemimpin redaksi saat ada yang berhalangan.
Sempak terjangnya dalam dunia jurnalistik membawanya mengenali bahasa Indonesia, hingga kemudian dia dipercaya sebagai Ketua Kongres Pemuda Pertama pada 1926.
Kontribusi M. Tabrani dalam Sumpah Pemuda
Keterampilan Tabrani semakin dikenal saat dia menjadi wartawan di koran Hindia Baroe. Pada 15 November 1025 di Gedung Lux Orientis Jakarta, Tabrani berhasil mengadakan Konferensi Organisasi Pemuda Nasional Pertama. Pertemuan-pertemuan merupakan usaha lain dari para pemuda setelah kegagalan mereka membentuk federasi antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond.
Hasil konferensi tersebut menghasilkan rencana penyelenggaraan Kongres Pemuda Pertama pada 30 April–2 Mei 2026 di Jakarta. Tabrani yang merupakan perwakilan dari Jong Java yang kemudian dipercaya menjadi ketua kongres pemuda tersebut. Terpilihnya Tabrani bukan tanpa sebab. Dia dianggap sebagai wartawan muda yang cerdas dan cerdik. Ini sekaligus menjadi trik untuk mengelabui para pejabat Belanda. Dirinya yang sebagai wartawan, tentu tidak akan mengundang kecurigaan pihak yang berwajib. Sebagai bagian dari strategi, Tabrani meminta agar semua pidato yang akan disampaikan pada kongres pemuda harus ditulis.
Salah satu langkah awal cerdik Tabrani adalah dengan mendekati Visbeen Hoofdparker, Komisaris PID yang ditugaskan selama Kongres Pemuda Pertama. Visbeen meminta agar Tabrani tidak berbuat macam-macam karena hal itu akan merepotkan dirinya dan anak buahnya. Tabrani pun memberikan solusi terkait hal itu, yakni dengan menyerahkan salinan naskah pidato yang telah diseleksinya sehingga Visbeen tidak perlu membuat catatan. Pejabat Belanda itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikelabui, bahkan justru mengucapkan terima kasih.
Kongres Pemuda Pertama berlangsung selama tiga hari. Salah satu hari yang berlangsung sengit adalah pada hari ketiga, saat Muhammad Yamin mengisi salah satu sesi pidato. Melalui pidato berjudul "Kemungkinan Perkembangan Bahasa-Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang", Yamin berpendapat bahwa hanya ada dua bahasa yabg berpeluang dijadikan sebagai bahasa persatuan Indonesia, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Yamin mengusulkan dua bahasa tersebut tanpa mengurangi penghargaannya terhadap bahasa-bahasa lainnya di Nusantara.
Ada pertimbangan logis mengapa dirinya mengusulkan dua bahasa tersebut. Bahasa Jawa mempunyai peluang menjadi bahasa persatuan karena bahasa Jawa adalah bahasa dengan jumlah penutur terbanyak. Adapun bahasa Melayu mempunyai peluang karena saat waktu tersebut bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pergaulan (lingua franca). Oleh karena telah menjadi bahasa penjembatan atau lingua franca, Yamin mengatakan bahasa Melayu memiliki peluang yang lebih menjadi bahasa persatuan dibandingkan bahasa Jawa.
Pidato Muhammad Yamin ini akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan kongres berupa satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Akan tetapi, Tabrani menolak dan tidak sependapat jika bahasa persatuan dinamakan bahasa Melayu sebagai usulan Yamin. Tabrani tidak sependapat karena dirinya berpikir bahwa jika nusa bernama Indonesia, bangsa bernama Indonesia, maka bahasa pun harus bernama bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.
Pendapat Tabrani ini direspons oleh Yamin yang mengatakan bahwa “Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun”. Yamin memang sedang "naik pitam" karena ketidaksetujuan Tabrani atas konsep kebahasaan yang diusulkannya. Namun, Tabrani tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia mengatakan bahwa nama persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Jika pun belum ada, maka harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini.
Namun, ketidaksepahaman antara Tabrani dengan Yamin ini yang berakibat pada tidak dihasilkannya keputusan kongres. Barulan pada Kongres Pemuda II istilah nama "Bahasa Indonesia" ini akhirnya lahir dan disepakati sebagai bahasa nasional sebagaimana terdapat pada Ikrar Sumpah Pemuda.
Wafatnya M. Tabrani Hingga Gelar Pahlawan Nasional
Tabrani berusia 80 tahun hingga dirinya mengembuskan napas terakhir pada 12 Januari 1984. Tabrani dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Atas jasa yang telah dilakukan Tabrani, Badan Bahasa mengupayakan gelar pahlawan untuk Tabrani. Usulan dari Badan Bahasa tersebut akhirnya disetujui dan diberikan Presiden Joko Widodo pada 10 November 2023.
Referensi:
M.Tabrani. 1979. Anak Nakal Banyak Akal. Jakarta: Aqua Press.
Rahman, Momon Abdul, Darmansyah, Suswadi, Sri Sadono Wiyadi, dan Misman. 2008. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional Edisi Ketiga. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.
BACA JUGA
Berita Populer
Gender dalam Kuliner Nusantara, Jadikan Bakso Identik Gender Maskulin
- 09 Maret 2026 15:33