KabarBahasa.id – Portal informasi bahasa yang menyajikan berita, opini, tokoh, dan kajian ilmiah seputar perkembangan bahasa, literasi, dan budaya di Indonesia.

Hubungi Kami

Dari anjing Menjadi anjir, anjay, njir, anjrit, anj, dan jir, Bukti Kreativitas Gen Milenial dalam Berbahasa

Dari anjing Menjadi anjir, anjay, njir, anjrit, anj, dan jir, Bukti Kreativitas Gen Milenial dalam Berbahasa

Bahasa berubah dan berkembang adalah sebuah keniscayaan. Sebagai sebuah media utama berkomunikasi antaranggota masyarakat, bahasa senantiasa mengalami dinamika perubahan menyesuaikan kebutuhan anggota masyarakatnya. Termasuk adalah kebutuhan anggota masyarakat dalam menyampaikan kekesalan atau amarah.

Dalam menyampaikan kekesalan atau amarah, masyarakat akan menggunakan kosakata-kosakata makian atau umpatan. Oleh karena itu, kosakata makian menjadi kekayaan bahasa yang pasti dimiliki oleh suatu masyarakat bahasa. Termasuk, masyarakat bahasa Indonesia.

Penutur bahasa Indonesia memiliki beragam kosakata makian yang disesuaikan dengan variasi penutur dan konteksnya. Salah satu kosakata yang acapkali terlontar oleh penutur bahasa Indonesia dalam konteks kesal atau marah adalah anjing. Kata anjing menjadi salah satu kata makian yang memiliki frekuensi penggunaan yang tinggi, tidak terbatas pada usia maupun suku tertentu.

Namun, dalam perkembangannya, kata anjing mengalami dinamika perubahan makna yang tidak lagi mengarah kepada kekesalan atau amarah. Bagi generasi milenial (Gen-Milenial), kata anjing tidak hanya sebatas menyampaikan emosi marah. Lebih dari itu, kata anjing mengalami perubahan struktur kata dan makna yang itu diterima dan digunakan secara masif dalam masyarakat generasi milenial.

Sapanti dan Suswandi (2022) menemukan temuan yang menarik terkait dengan perubahan struktur dan makna kata anjing pada generasi milenial. Dalam penelitiannya berjudul “Perluasan Makna dan Variasi Kata Anjing pada Generasi Milenial”, Sapanti dan Suswandi melibatkan 181 responden generasi milenial. Mereka diminta membuat kalimat dengan kata anjing.

Hasilnya, dari 181 responden, terdapat 143 responden yang justru memunculkan variasi lain dari kata anjing, yakni anjir, anjay, njir, anjrit, anj, dan jir. Munculnya variasi kata ini membuktikan bahwa bahasa mengalami perubahan yang dinamis. Salah satu faktor dinamisnya perubahan tersebut adalah tingkat kreativitas penutur bahasanya. Semakin kreatif suatu masyarakat bahasa, perubahan dan perkembangan bahasa akan berjalan lebih cepat.

Temuan lain yang juga menarik dari penelitian Sapanti dan Suswandi adalah diperolehnya pemaknaan kata anjing yang tidak hanya sebatas umpatan karena kekesalan dan marah. Bagi generasi milenial, kata anjing dan turunan variasinya,njir, anjay, njir, anjrit, anj, dan jir, juga dapat digunakan pada konteks marah, kaget, mengumpat, kagum, tidak menyangka, enak, kecewa, dan lucu.